Cerpen Ustadz Tembok Part 4
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebelum melanjutkan Part 4 diharapkan kawan kawan sudah membaca dari Part 1 ya...
Part 4 : Emosi Gila
***
Ini sudah dua tahun, sejak insiden testpack yang memalukan—malam itu. Tapi sampai saat ini, aku masih belum berani bertatap wajah dengannya lagi.
Benar. Sejak malam itu, aku selalu menghindari pertemuan dengannya. Menghindari tempat-tempat yang memiliki kemungkinan besar ia datangi, terutama perpustakaan. Dan akhirnya sekarang, aku lebih milih membeli buku ketimbang datang ke perpustakaan.
Yang paling parah, aku bahkan menghindari mengajar di kelasnya. Padahal jabatanku sekarang adalah Kepala Sekolah. Seharusnya aku netral dan bisa mengajar di mana pun.
Alasan kenapa aku menghindarinya, tentu karena aku ingin melupakannya. Aku tidak bisa terus-terusan berada dalam lingkaran perasaan yang menyusahkan ruang gerakku sendiri.
Aku cukup tahu diri, dan sangat sadar. Usia Nayaka baru bertambah dua tahun, artinya saat ini usianya empatbelas tahun. Tapi tetap saja ia masih di bawah umur.
Aku membuang napasku—kasar.
Segala cara sudah kucoba demi memusnahkan pikiran tentangnya, yang nyelonong tanpa permisi. Tapi ternyata tidak semudah itu, Pemirsa.
Bayang-bayang senyumnya di awal pertemuan kami di kantorku, pertemuan kami di apotek, bahkan seolah Ayahnya ikut andil dalam tumbuhnya perasaan ini.\
Seorang Ayah bijaksana yang bangga terhadap putri sematawayangnya—yang dibesarkan seorang diri—tanpa campur tangan perempuan bernama istri.
'Putri saya—Nayaka—terlahir prematur. Sejak awal kelahirannya, dokter mengatakan bahwa Nayaka akan sulit menyerap apa yang kami ajarkan.
Ia kesulitan untuk berpikir cepat karena ada beberapa saraf yang terganggu, meski kondisi fisiknya terlihat sempurna.
Kesehatan Nayaka akan menurun jika tidak mampu mengontrol pikirannya, hingga dokter menyarankan kepada kami untuk tidak membiarkan Nayaka berpikir terlalu keras.
Tapi hingga ia berusia dua belas tahun—tahun ini, kemauan Nayaka ternyata lebih keras dari kemampuan berpikirnya. Terutama setelah ibunya meninggal dua tahun yang lalu,’ terang Pak Syakib—saat itu—kepadaku.
Aku pun sempat berpikir bahwa yang kurasakan hanya sebatas kagum akan baktinya pada kedua orang tua.
Namun, semakin kudalami, perasaan ini bukan hanya rasa kagum semata.
Letupan perasaan rindu dan rasa takut kehilangan yang beradu menjadi satu, juga gemuruh asing yang kerap kurasakan pada debaran jantungku—setiap kali bayangannya muncul tepat di depan hidungku.
Agh! Aku bisa gila.
Karena itu pula, sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu di sini, di gedung olahraga. Menikmati waktu dengan bermain basket, atau ikut beberapa olahraga bersama para Ustadz lain. Padahal sebelumnya aku tidak menyukai olahraga jenis apa pun.
Ya Allah ... jika pun perasaan ini murni perasaan cinta, aku benar-benar ingin mengungkapkannya di waktu yang tepat, agar aku tidak mengganggu studinya.
“Assalamu’alaikum, Ustadz Baha,” sapaan Mas Baim—guru olahraga yang biasanya melatih futsal—membuyarkan monolog dalam hati.
“Wa’alaikumussalam Mas Baim,” jawabku datar, seperti biasa.
“Ustadz, sendirian?”
“Iya, Mas. Yang lain sudah kembali ke rumah. Hari ini ada latihan futsal?”
“Iya, Ustadz. Latihannya nanti ba’da dzuhur. Tapi saya akan memasang net pada gawangnya dulu. Supaya nanti anak-anak bisa latihan tepat waktu.”
“Sini, saya bantu.”
Aku membantu Mas Baim mempersiapkan lapangan untuk anak-anak futsal. Ditengah kerja kami, celetukan Mas Baim begitu menggelitik.
“Ustadz Baha, sudah lama sekali saya tidak melihat ustadz di perpustakaan. Biasanya Ustadz lebih memilih untuk baca buku-buku membosankan di perpustakaan, ketimbang berkeringat seperti ini,” kata Mas Baim dengan kekehan lirihnya.
Aku diam. Rupanya banyak sekali yang merasakan perubahanku selain lima kakakku.
“Saya akan kembali ke kamar, Ustadz. Saya harus mandi dan shalat dhuha dulu. Mari, Ustadz. Assalamu’alaikum.”
Wa’alaikumussalam
***
Beberapa saat setelah Mas Baim pergi, aku memejamkan mata sejenak.
Pikiranku menerawang, membayangkan pernikahan indah dengan orang yang kucintai.
Konyolnya, dalam bayanganku justru Nayaka dengan seragam SMP nya, berada di pelaminan bersamaku.
Aku meremas rambutku, kesal. Aku tidak boleh seperti ini. Aku merindukannya. Semakin kutepis, kehadirannya semakin nyata.
Aku mengemas ranselku yang berisi handuk dan air minum. Kemudian memakai kembali jaket olahraga yang kubawa, lalu menenteng bola basket di lengan kiriku.
Aku berjalan menuju pintu untuk keluar gedung, tapi belum sampai pintu, kulihat santri putri bernama Safira berjalan memasuki gedung ini sambil memainkan bola basket, disusul dengan ... Nayaka?
Mataku membulat. Apakah ini rindu yang terjawab? Agh!
Aku terburu-buru membalikkan badanku agar tidak melihatnya. Jika ada yang memegang dadaku, kupastikan mereka akan bertanya; apa aku memiliki riwayat sakit jantung?
Aku melangkah dengan tergesa-gesa, mencari tempat untuk bersembunyi. Entahlah ... untuk hari ini, aku ingin melihatnya lebih lama.
“Nay ... kau serius, dengan olimpiade kimia itu?” tanya Safira.
Keningku berkerut. Olimpiade?
Kulihat dari sini, Nayaka dan Safira mengambil duduk di kursi tribun paling bawah, tak jauh dari tempatku bersembunyi.
Aku bernapas lega, karena artinya, aku masih bisa mencuri dengar percakapan mereka. Dan masih bisa melihat wajah teduh itu.
“Aku serius, Fir. Karena itu, aku harus rajin belajar,” jawab Nayaka sambil mulai membuka buku.
“Bukankah kesulitan terbesarmu itu, berfikir cepat?” tanya Safira. “Aku khawatir kalau kau tidak memenangkan olimpiade, teman-teman akan semakin mengejek dan mengatakan kau tukang contek yang ulung.” Sambungnya.
“Kau tahu apa yang teman-teman gunjingkan setiap kali ada kesempatan?” tanya Safira—lagi.
Pertanyaan Safira hanya di jawab dengan gendikan bahu oleh Nayaka. Safira mendengus kesal
“Sarah pernah dengan angkuh mengatakan ‘Menyebalkan sekali! Aku yang paling cerdas di kelas ini, bagaimana mungkin Ustadzah Wardah, memilih Nayaka untuk mewakili olimpiade kimia?” Safira menirukan gaya bahasa teman sekelas mereka. Aku terkekeh geli.
“Lalu Farah menyambung, Iya ... Nayaka bahkan tidak aktif di kelas. Saat tanya-jawab untuk sesi kuis, dia seperti orang kebingungan. Aku curiga, kalau selama ini Nayaka mencontek saat Ujian Semester. Bisa saja ... ia membawa kertas contekan selama ujian?” jelas Safira.
“Dan masih banyak gunjingan-gunjingan teman kita tentang hal serupa, Naya. Karena saat Sarah dan teman-temannya menggunjing, aku berada tepat di belakang kursi mereka. Aku benar-benar ingin menyumpal mulut mereka dengan tong sampah!” tutur Safira berapi-api.
“Lagipula, olimpiade bertepatan dengan liburan kenaikan kelas. Memangnya kau tidak ingin berlibur, dengan Ayah?” tanya Safira sambil melirik sahabatnya itu.
“Fir ... Pertama, aku tidak peduli dengan apa yang teman-teman katakan. Yang terpenting, aku tidak terbukti menjadi tukang contek. Kedua, Ayah sudah memiliki jadwal ke luar kota, jadi kemungkinan aku liburan seorang diri di rumah,” ucap Nayaka. Ia kembali fokus dengan bukunya.
“Kau yakin akan menang?” tanya Safira ragu.
“Tentu saja! Hanya karena aku kesulitan menjawab saat sesi tebak soal harian, bukan berarti aku tidak bisa. Aku hanya perlu belajar lebih giat lagi,” jawab Nayaka santai.
Aku tersenyum. Nayaka-ku yang pantang menyerah. Jika melihatnya seperti ini, ia tidak terlihat seperti gadis berusia empat belas tahun. Kata-katanya bahkan terdengar seperti gadis yang mampu menguatkan orang lain. Cara berpikir Nayaka sangat dewasa.
Pandanganku mengarah pada Safira. Kulihat Safira justru terlihat sangat kesal. Lalu ia melampiaskan rasa kesal, dengan memainkan bola basket di jari telunjuknya.
“Nay! Kau sadar sudah menyakiti diri sendiri?” tanya Safira masih dengan memainkan bola basket.
Nayaka menutup bukunya. Ia terlihat menghela napas pelan. Kemudian menatap sahabatnya dengan guratan wajah lelah.
“Fir ... kau tau bukan, seberapa penting prestasi internasional untukku?” tanya Nayaka lirih. “Aku sudah berhasil di seleksi Nasional. Jika aku berhasil di olimpiade internasional, aku bisa masuk Universitas manapun yang ku inginkan ketika kuliah nanti,” sambungnya.
“Aku tau, Nay. Aku pun mendukung,” ucap Safira. “Tapi lihatlah wajahmu. Kau tampak sangat kelelahan. Jadi tolong ... jangan seperti ini. Membaca buku, mencatat, menghafal rumus tanpa peduli kesehatan. Tubuhmu perlu istirahat. Bahkan kau tidak melirik sarapanmu tadi pagi,” sambungnya.
Safira masih mencoba berbicara dengan tenang. Justru aku yang sempat terkejut dengan ucapan Safira. Nayaka belajar sekeras itu?
“Setelah belajar ini aku makan, Fir. Beri waktu aku satu jam, ok?” “Oh, ayolah ... Satu jam terlalu lama, Nay. Isi perutmu terlebih dahulu baru belajar lagi, hm?” kata Safira coba membujuk.
“Fir—”
“Nayaka Devi ... kau harus makan sarapanmu dan jangan pikirkan apapun, hm?”
Setiap orang mungkin memahami ini, jika seseorang sudah memanggil kita dengan nama lengkap, artinya memiliki dua kemungkinan. Pertama, ia sudah mulai marah. Yang kedua, ia sudah sangat marah. Ku lihat Safira sudah sangat marah.
“Fir ... tap—”
“Nayaka Devi!” bentak Safira. “Ini hari Ahad. Waktu kita untuk istirahat dari memikirkan pelajaran sekolah. Aku mengajakmu ke gedung ini untuk bermain basket, bukan untuk membaca buku!”
Nada bicara Safira meninggi. Nayaka terlonjak. Aku pun tak kalah terkejut, dan merasa sedikit ... marah? Kedua tanganku mengepal, gigiku gemeletuk. Selama aku hidup, aku merasa belum pernah semarah ini.
Aku tahu, Nayaka keterlaluan dalam memforsir waktu untuk belajar, tapi bukan berarti Safira berhak membentaknya. Aku tidak rela siapapun melukai hati gadisku.
Gadisku? Astaghfirullah ... apa yang ku pikirkan? Aku membuang napasku kasar—lagi. Aku merasa semakin gila. Pikiran ku, emosiku, tingkah laku ku, semuanya gila.
***
Bersambung...
Terimakasih telah membaca
Jangan lupa komen dan share sebanyak banyaknya yahh agar aku semangat untuk menulisnya
Sebelum melanjutkan Part 4 diharapkan kawan kawan sudah membaca dari Part 1 ya...
Part 4 : Emosi Gila
***
Ini sudah dua tahun, sejak insiden testpack yang memalukan—malam itu. Tapi sampai saat ini, aku masih belum berani bertatap wajah dengannya lagi.
Benar. Sejak malam itu, aku selalu menghindari pertemuan dengannya. Menghindari tempat-tempat yang memiliki kemungkinan besar ia datangi, terutama perpustakaan. Dan akhirnya sekarang, aku lebih milih membeli buku ketimbang datang ke perpustakaan.
Yang paling parah, aku bahkan menghindari mengajar di kelasnya. Padahal jabatanku sekarang adalah Kepala Sekolah. Seharusnya aku netral dan bisa mengajar di mana pun.
Alasan kenapa aku menghindarinya, tentu karena aku ingin melupakannya. Aku tidak bisa terus-terusan berada dalam lingkaran perasaan yang menyusahkan ruang gerakku sendiri.
Aku cukup tahu diri, dan sangat sadar. Usia Nayaka baru bertambah dua tahun, artinya saat ini usianya empatbelas tahun. Tapi tetap saja ia masih di bawah umur.
Aku membuang napasku—kasar.
Segala cara sudah kucoba demi memusnahkan pikiran tentangnya, yang nyelonong tanpa permisi. Tapi ternyata tidak semudah itu, Pemirsa.
Bayang-bayang senyumnya di awal pertemuan kami di kantorku, pertemuan kami di apotek, bahkan seolah Ayahnya ikut andil dalam tumbuhnya perasaan ini.\
Seorang Ayah bijaksana yang bangga terhadap putri sematawayangnya—yang dibesarkan seorang diri—tanpa campur tangan perempuan bernama istri.
'Putri saya—Nayaka—terlahir prematur. Sejak awal kelahirannya, dokter mengatakan bahwa Nayaka akan sulit menyerap apa yang kami ajarkan.
Ia kesulitan untuk berpikir cepat karena ada beberapa saraf yang terganggu, meski kondisi fisiknya terlihat sempurna.
Kesehatan Nayaka akan menurun jika tidak mampu mengontrol pikirannya, hingga dokter menyarankan kepada kami untuk tidak membiarkan Nayaka berpikir terlalu keras.
Tapi hingga ia berusia dua belas tahun—tahun ini, kemauan Nayaka ternyata lebih keras dari kemampuan berpikirnya. Terutama setelah ibunya meninggal dua tahun yang lalu,’ terang Pak Syakib—saat itu—kepadaku.
Aku pun sempat berpikir bahwa yang kurasakan hanya sebatas kagum akan baktinya pada kedua orang tua.
Namun, semakin kudalami, perasaan ini bukan hanya rasa kagum semata.
Letupan perasaan rindu dan rasa takut kehilangan yang beradu menjadi satu, juga gemuruh asing yang kerap kurasakan pada debaran jantungku—setiap kali bayangannya muncul tepat di depan hidungku.
Agh! Aku bisa gila.
Karena itu pula, sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu di sini, di gedung olahraga. Menikmati waktu dengan bermain basket, atau ikut beberapa olahraga bersama para Ustadz lain. Padahal sebelumnya aku tidak menyukai olahraga jenis apa pun.
Ya Allah ... jika pun perasaan ini murni perasaan cinta, aku benar-benar ingin mengungkapkannya di waktu yang tepat, agar aku tidak mengganggu studinya.
“Assalamu’alaikum, Ustadz Baha,” sapaan Mas Baim—guru olahraga yang biasanya melatih futsal—membuyarkan monolog dalam hati.
“Wa’alaikumussalam Mas Baim,” jawabku datar, seperti biasa.
“Ustadz, sendirian?”
“Iya, Mas. Yang lain sudah kembali ke rumah. Hari ini ada latihan futsal?”
“Iya, Ustadz. Latihannya nanti ba’da dzuhur. Tapi saya akan memasang net pada gawangnya dulu. Supaya nanti anak-anak bisa latihan tepat waktu.”
“Sini, saya bantu.”
Aku membantu Mas Baim mempersiapkan lapangan untuk anak-anak futsal. Ditengah kerja kami, celetukan Mas Baim begitu menggelitik.
“Ustadz Baha, sudah lama sekali saya tidak melihat ustadz di perpustakaan. Biasanya Ustadz lebih memilih untuk baca buku-buku membosankan di perpustakaan, ketimbang berkeringat seperti ini,” kata Mas Baim dengan kekehan lirihnya.
Aku diam. Rupanya banyak sekali yang merasakan perubahanku selain lima kakakku.
“Saya akan kembali ke kamar, Ustadz. Saya harus mandi dan shalat dhuha dulu. Mari, Ustadz. Assalamu’alaikum.”
Wa’alaikumussalam
***
Beberapa saat setelah Mas Baim pergi, aku memejamkan mata sejenak.
Pikiranku menerawang, membayangkan pernikahan indah dengan orang yang kucintai.
Konyolnya, dalam bayanganku justru Nayaka dengan seragam SMP nya, berada di pelaminan bersamaku.
Aku meremas rambutku, kesal. Aku tidak boleh seperti ini. Aku merindukannya. Semakin kutepis, kehadirannya semakin nyata.
Aku mengemas ranselku yang berisi handuk dan air minum. Kemudian memakai kembali jaket olahraga yang kubawa, lalu menenteng bola basket di lengan kiriku.
Aku berjalan menuju pintu untuk keluar gedung, tapi belum sampai pintu, kulihat santri putri bernama Safira berjalan memasuki gedung ini sambil memainkan bola basket, disusul dengan ... Nayaka?
Mataku membulat. Apakah ini rindu yang terjawab? Agh!
Aku terburu-buru membalikkan badanku agar tidak melihatnya. Jika ada yang memegang dadaku, kupastikan mereka akan bertanya; apa aku memiliki riwayat sakit jantung?
Aku melangkah dengan tergesa-gesa, mencari tempat untuk bersembunyi. Entahlah ... untuk hari ini, aku ingin melihatnya lebih lama.
“Nay ... kau serius, dengan olimpiade kimia itu?” tanya Safira.
Keningku berkerut. Olimpiade?
Kulihat dari sini, Nayaka dan Safira mengambil duduk di kursi tribun paling bawah, tak jauh dari tempatku bersembunyi.
Aku bernapas lega, karena artinya, aku masih bisa mencuri dengar percakapan mereka. Dan masih bisa melihat wajah teduh itu.
“Aku serius, Fir. Karena itu, aku harus rajin belajar,” jawab Nayaka sambil mulai membuka buku.
“Bukankah kesulitan terbesarmu itu, berfikir cepat?” tanya Safira. “Aku khawatir kalau kau tidak memenangkan olimpiade, teman-teman akan semakin mengejek dan mengatakan kau tukang contek yang ulung.” Sambungnya.
“Kau tahu apa yang teman-teman gunjingkan setiap kali ada kesempatan?” tanya Safira—lagi.
Pertanyaan Safira hanya di jawab dengan gendikan bahu oleh Nayaka. Safira mendengus kesal
“Sarah pernah dengan angkuh mengatakan ‘Menyebalkan sekali! Aku yang paling cerdas di kelas ini, bagaimana mungkin Ustadzah Wardah, memilih Nayaka untuk mewakili olimpiade kimia?” Safira menirukan gaya bahasa teman sekelas mereka. Aku terkekeh geli.
“Lalu Farah menyambung, Iya ... Nayaka bahkan tidak aktif di kelas. Saat tanya-jawab untuk sesi kuis, dia seperti orang kebingungan. Aku curiga, kalau selama ini Nayaka mencontek saat Ujian Semester. Bisa saja ... ia membawa kertas contekan selama ujian?” jelas Safira.
“Dan masih banyak gunjingan-gunjingan teman kita tentang hal serupa, Naya. Karena saat Sarah dan teman-temannya menggunjing, aku berada tepat di belakang kursi mereka. Aku benar-benar ingin menyumpal mulut mereka dengan tong sampah!” tutur Safira berapi-api.
“Lagipula, olimpiade bertepatan dengan liburan kenaikan kelas. Memangnya kau tidak ingin berlibur, dengan Ayah?” tanya Safira sambil melirik sahabatnya itu.
“Fir ... Pertama, aku tidak peduli dengan apa yang teman-teman katakan. Yang terpenting, aku tidak terbukti menjadi tukang contek. Kedua, Ayah sudah memiliki jadwal ke luar kota, jadi kemungkinan aku liburan seorang diri di rumah,” ucap Nayaka. Ia kembali fokus dengan bukunya.
“Kau yakin akan menang?” tanya Safira ragu.
“Tentu saja! Hanya karena aku kesulitan menjawab saat sesi tebak soal harian, bukan berarti aku tidak bisa. Aku hanya perlu belajar lebih giat lagi,” jawab Nayaka santai.
Aku tersenyum. Nayaka-ku yang pantang menyerah. Jika melihatnya seperti ini, ia tidak terlihat seperti gadis berusia empat belas tahun. Kata-katanya bahkan terdengar seperti gadis yang mampu menguatkan orang lain. Cara berpikir Nayaka sangat dewasa.
Pandanganku mengarah pada Safira. Kulihat Safira justru terlihat sangat kesal. Lalu ia melampiaskan rasa kesal, dengan memainkan bola basket di jari telunjuknya.
“Nay! Kau sadar sudah menyakiti diri sendiri?” tanya Safira masih dengan memainkan bola basket.
Nayaka menutup bukunya. Ia terlihat menghela napas pelan. Kemudian menatap sahabatnya dengan guratan wajah lelah.
“Fir ... kau tau bukan, seberapa penting prestasi internasional untukku?” tanya Nayaka lirih. “Aku sudah berhasil di seleksi Nasional. Jika aku berhasil di olimpiade internasional, aku bisa masuk Universitas manapun yang ku inginkan ketika kuliah nanti,” sambungnya.
“Aku tau, Nay. Aku pun mendukung,” ucap Safira. “Tapi lihatlah wajahmu. Kau tampak sangat kelelahan. Jadi tolong ... jangan seperti ini. Membaca buku, mencatat, menghafal rumus tanpa peduli kesehatan. Tubuhmu perlu istirahat. Bahkan kau tidak melirik sarapanmu tadi pagi,” sambungnya.
Safira masih mencoba berbicara dengan tenang. Justru aku yang sempat terkejut dengan ucapan Safira. Nayaka belajar sekeras itu?
“Setelah belajar ini aku makan, Fir. Beri waktu aku satu jam, ok?” “Oh, ayolah ... Satu jam terlalu lama, Nay. Isi perutmu terlebih dahulu baru belajar lagi, hm?” kata Safira coba membujuk.
“Fir—”
“Nayaka Devi ... kau harus makan sarapanmu dan jangan pikirkan apapun, hm?”
Setiap orang mungkin memahami ini, jika seseorang sudah memanggil kita dengan nama lengkap, artinya memiliki dua kemungkinan. Pertama, ia sudah mulai marah. Yang kedua, ia sudah sangat marah. Ku lihat Safira sudah sangat marah.
“Fir ... tap—”
“Nayaka Devi!” bentak Safira. “Ini hari Ahad. Waktu kita untuk istirahat dari memikirkan pelajaran sekolah. Aku mengajakmu ke gedung ini untuk bermain basket, bukan untuk membaca buku!”
Nada bicara Safira meninggi. Nayaka terlonjak. Aku pun tak kalah terkejut, dan merasa sedikit ... marah? Kedua tanganku mengepal, gigiku gemeletuk. Selama aku hidup, aku merasa belum pernah semarah ini.
Aku tahu, Nayaka keterlaluan dalam memforsir waktu untuk belajar, tapi bukan berarti Safira berhak membentaknya. Aku tidak rela siapapun melukai hati gadisku.
Gadisku? Astaghfirullah ... apa yang ku pikirkan? Aku membuang napasku kasar—lagi. Aku merasa semakin gila. Pikiran ku, emosiku, tingkah laku ku, semuanya gila.
***
Bersambung...
Terimakasih telah membaca
Jangan lupa komen dan share sebanyak banyaknya yahh agar aku semangat untuk menulisnya

Ajarin bikin cerpen dong kak😂
Yang penting bisa nulis 🤗