Cerpen Ustadz Tembok Part 3
Part 3 : Bukan Boyband Korea
***
"Baha, bagaimana kau bisa seceroboh itu menjatuhkan testpack didepan anak kecil?"
Aku menghela napas kasar, "Diamlah, Mas. Aku terlalu terkejut tadi. Anak itu muncul begitu saja."
Mas Rafli terkikik.
"Kau gugup seperti pemuda kasmaran."
Aku menelan ludah, lalu mengelak, "Hei, Mas. Apa yang Mas bicarakan?"
"Kau belum pernah seperti ini sebelumnya, Baha. Aku paham itu."
'Apa kegugupanku sejelas itu?' batinku.
"Kuberi tahu, saat kau kasmaran, kau akan merasa gugup jika berhadapan dengannnya."
"Kyak!"
"Berisik, bodoh! Kau tahu, ini wilayah santri, bukan?"
"Tahu, lalu?"
"Jika kita bertengkar di sini, reputasi kita sebagai Ustadz Cool akan hancur."
"Astagfirullah, Ma ... s. Eugh! Dasar sok nyes!"
Aku berjalan mendahuluinya yang masih menggerutu. Rasanya aku menyesal telah meninggalkan buku kesayanganku demi menemaninya.
Ya Allah ... bisakah aku tidur nyenyak malam ini? Wajahnya selalu hadir didepan hidungku.
"Baha! Tunggu."
Aku tidak peduli dengan teriakan Mas Rafli. Aku terus berjalan, tapi langkah Mas Rafli lebih lebar. Ia berhasil menyusulku.
"Baha, aku serius soal tadi."
Aku seketika berhenti melangkah, kemudian kutatap Mas Rafli dengan tatapan kesal.
"Mas, aku sedang memikirkan nasib studi Doktorku, pusing. Jadi jangan katakan hal aneh seperti tadi," tegasku.
"Aku tidak mengatakan hal aneh. Justru kau sendiri yang terlihat aneh. Lagipula, aku meramal nasib percintaanmu akan sulit jika jatuh cinta pada gadis sekecil itu."
Ucapan Mas Rafli membuatku terkesiap. Ada ketakutan yang tiba-tiba menelusup kedalam perasaan.
"Apa maksudmu?" tanyaku, memastikan ramalannya.
"Dengar, usia anak SMP itu sekitar tigabelas tahun, kau sendiri sudah berusia tigapuluh tahun, bukankah itu sulit? Bagaimana bisa melamar anak SMP di jaman sekarang ini?"
Lagi--aku menghela napas kasar. Aku serius menanggapi ramanalannya. Ia malah menghitung usia.
Aku juga tahu selisih usiaku dan Nayaka sangat jauh. Dasar peramal palsu!
Tring!
Sebuah pesan Whatsapp masuk. Aku merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Mas Rafli juga melakukan hal yang sama.
"Kau mendapat pesan dari Mas Naufal?" tanya Mas Rafli."
"Mmm ..." Aku menjawab dengan gumaman.
[From : Mas Naufal]
Assalamu'alaikum, Baha. Besok pagi sebelum mengajar, kita briefing untuk persiapan rapat bulanan dengan Abah Kiai.
[Baca Juga : Cerpen Ustadz Tembok Part 2]
***
Pagi hari, kami berenam benar-benar berkumpul untuk briefing sebelum rapat bulanan dengan Abah.
Seperti biasa, selesai briefing, kami mencari sarapan di kantin khusus area Asatidz-asatidzah.
Namun aku sedikit heran dengan tingkah para Ustadzah yang memandang kami berenam dengan disertai bisik-bisik.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Mas Syarif.
"Entahlah ... mereka seperti keponakanku ketika menonton acara musik boyband korea," jawab Mas
Syarif asal.
"Baha, mungkin mereka membicarakanmu, yang satu-satunya lajang diantara kita," ucap Mas Radika sambil terkikik.
"Elu bisa nikahin salah satu dari mereka," imbuhnya Bang Syahid.
"Ck! Aku belum berpikir untuk menikah," sergahku.
Kudengar kikikan geli Mas Rafli. Aku meliriknya dengan tatapan jengkel.
"Rafli, ada apa?" tanya Mas Radika.
"Tidak apa-apa, Mas. Kita bahkan bukan boyband korea>"
***
Bersambung...
Terimakasih teman teman telah membaca...
Jangan lupa komen dan share sebanyak banyaknya agar aku makin semangat nulisnya
Source : https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2827144907347382?sfns=mo
***
"Baha, bagaimana kau bisa seceroboh itu menjatuhkan testpack didepan anak kecil?"
Aku menghela napas kasar, "Diamlah, Mas. Aku terlalu terkejut tadi. Anak itu muncul begitu saja."
Mas Rafli terkikik.
"Kau gugup seperti pemuda kasmaran."
Aku menelan ludah, lalu mengelak, "Hei, Mas. Apa yang Mas bicarakan?"
"Kau belum pernah seperti ini sebelumnya, Baha. Aku paham itu."
'Apa kegugupanku sejelas itu?' batinku.
"Kuberi tahu, saat kau kasmaran, kau akan merasa gugup jika berhadapan dengannnya."
"Kyak!"
"Berisik, bodoh! Kau tahu, ini wilayah santri, bukan?"
"Tahu, lalu?"
"Jika kita bertengkar di sini, reputasi kita sebagai Ustadz Cool akan hancur."
"Astagfirullah, Ma ... s. Eugh! Dasar sok nyes!"
Aku berjalan mendahuluinya yang masih menggerutu. Rasanya aku menyesal telah meninggalkan buku kesayanganku demi menemaninya.
Ya Allah ... bisakah aku tidur nyenyak malam ini? Wajahnya selalu hadir didepan hidungku.
"Baha! Tunggu."
Aku tidak peduli dengan teriakan Mas Rafli. Aku terus berjalan, tapi langkah Mas Rafli lebih lebar. Ia berhasil menyusulku.
"Baha, aku serius soal tadi."
Aku seketika berhenti melangkah, kemudian kutatap Mas Rafli dengan tatapan kesal.
"Mas, aku sedang memikirkan nasib studi Doktorku, pusing. Jadi jangan katakan hal aneh seperti tadi," tegasku.
"Aku tidak mengatakan hal aneh. Justru kau sendiri yang terlihat aneh. Lagipula, aku meramal nasib percintaanmu akan sulit jika jatuh cinta pada gadis sekecil itu."
Ucapan Mas Rafli membuatku terkesiap. Ada ketakutan yang tiba-tiba menelusup kedalam perasaan.
"Apa maksudmu?" tanyaku, memastikan ramalannya.
"Dengar, usia anak SMP itu sekitar tigabelas tahun, kau sendiri sudah berusia tigapuluh tahun, bukankah itu sulit? Bagaimana bisa melamar anak SMP di jaman sekarang ini?"
Lagi--aku menghela napas kasar. Aku serius menanggapi ramanalannya. Ia malah menghitung usia.
Aku juga tahu selisih usiaku dan Nayaka sangat jauh. Dasar peramal palsu!
Tring!
Sebuah pesan Whatsapp masuk. Aku merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Mas Rafli juga melakukan hal yang sama.
"Kau mendapat pesan dari Mas Naufal?" tanya Mas Rafli."
"Mmm ..." Aku menjawab dengan gumaman.
[From : Mas Naufal]
Assalamu'alaikum, Baha. Besok pagi sebelum mengajar, kita briefing untuk persiapan rapat bulanan dengan Abah Kiai.
[Baca Juga : Cerpen Ustadz Tembok Part 2]
***
Pagi hari, kami berenam benar-benar berkumpul untuk briefing sebelum rapat bulanan dengan Abah.
Seperti biasa, selesai briefing, kami mencari sarapan di kantin khusus area Asatidz-asatidzah.
Namun aku sedikit heran dengan tingkah para Ustadzah yang memandang kami berenam dengan disertai bisik-bisik.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Mas Syarif.
"Entahlah ... mereka seperti keponakanku ketika menonton acara musik boyband korea," jawab Mas
Syarif asal.
"Baha, mungkin mereka membicarakanmu, yang satu-satunya lajang diantara kita," ucap Mas Radika sambil terkikik.
"Elu bisa nikahin salah satu dari mereka," imbuhnya Bang Syahid.
"Ck! Aku belum berpikir untuk menikah," sergahku.
Kudengar kikikan geli Mas Rafli. Aku meliriknya dengan tatapan jengkel.
"Rafli, ada apa?" tanya Mas Radika.
"Tidak apa-apa, Mas. Kita bahkan bukan boyband korea>"
***
Bersambung...
Terimakasih teman teman telah membaca...
Jangan lupa komen dan share sebanyak banyaknya agar aku makin semangat nulisnya
Source : https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2827144907347382?sfns=mo

Next bang