Cerpen Ustadz Tembok Part 2
Part 2 : Insiden Testpack
***
"Baha, apa kau sibuk?"
Aku yang sedang duduk sembari membaca buku seketika menoleh pada sumber suara. Mas Rafli.
"Ada apa mas?" tanyaku.
"Istriku ngidam kismis, dan nasi kebuli. Nanti sepulang mengajar, tolong temani aku ke restoran Arab ya? Sekalian mampir apotek beli Testpack." jawab Mas Rafli.
Keningku berkerut, dengan mata menyipit. "Ngidam? Kalian bahkan baru menikah selama dua minggu. Apa kalian melakukannya sebelum menikah?"
"Kyak! Pasca akad nikah saja aku tidak tahu istriku yang mana, bagaimana mungkin aku melakukannya sebelum menikah?"
Aku terkikik mengingat Mas Rafli menikah melalui perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Karena selama ta'aruf hanya melihat calon istri dalam foto saja. Jadi ia kebingungan mencari yang mana istrinya di dunia nyata. Terlebih busana yang dikenakan mempelai wanita dan para pengiringnya memiliki desain serta warna yang hampir mirip.
Aku ingat betapa pias wajahnya ketika melihat perempuan dengan make-up mencolok. Sebab Mas Rafli tidak menyukai perempuan ber make-up tebal.
Mbak Silvia, mantan kekasihnya saat kuliah dulu. Diterima cintanya oleh Mas Rafli karena hampir tidak pernah memakai make-up tebal.
"Hei, Baha!"
Aku tersadar dari lamunanku dengan masih mempertahankan kekehan geli.
Mas Rafli mendesah kasar. Kemudian dengan wajah lelah.
"Kau tahu? Aku membeli testpack dua kali dalam seminggu untuk memastikan bahwa usaha kami menghasilkan." ucapnya.
"Apa itu inisiatifmu?" tanyaku.
"Tentu saja bukan, bodoh!" sergahnya sambil memukul lenganku. Aku semakin terkikik.
"Aku pun tahu masa pembuahan membutuhkan waktu beberapa hari. Dan satu testpack itu cukup untuk sebulan asal penggunannya tepat." imbuhnya dengan wajah bersungut kesal.
Aku tertawa terbahak-bahak. Dan tawa ini hanya untuk kalangan sendiri, tidak untuk ditampilkan di luar area petinggi yayasan. Bahkan Asatidz-Asatidzah saja hampir tidak pernah melihatku tersenyum.
"Apa istrimu sepolos itu?" tanyaku masih dengan kikikan geli.
"Entahlah... Ia tidak sekolah formal, Baha. Hanya full mengabdi di ndalem kiai semenjak lulus SD, jadi mungkin ngaji kitab bab pernikahannya belum maksimal." ucapnya.
"Ia hanya memiliki ijazah paket. Tapi yang kusuka, ia sangan ta'dzim. Aku tidak tahu jika akan mendapat jodoh seunik itu." sambungnya dengan senyum cerah.
Aku mengangguk-angguk. Mas Rafli bahkan sudah bergelar Doktor, tapi mau menikahi perempuan lulusan SD demi berbakti kepada orang tua.
Mbak Arina sangat tidak sebanding dengan Mbak Silvia. Mas Rafli dan Mbak Silvia sama sama bergelar Doktor. Tapi Mbak Arina baik, putri Kiai juga.
"Aku tidak bisa membayangkan hidup dengan pernikahan karena perjodohan." ucapku
"Kau benar. Aku juga tidak pernah membayangkannya. Tapi disinilah ketaatan kita pada orang tua di uji. Kau tahu kan bagaimana oran tuaku tidak menyetujui hubunganku dengan Silvia?"
Akupun hanya bisa mengangguk lagi.
Itu salah satu alasan yang mebuatku akhirnya enggan memiliki kekasih.
Lima sahabatku jatuh cinta, kemudian menjalin kasih saat kuliah, tapi hanya Mas Radika yang cintanya sukses hingga menikah dengan Ning Ana. Yang lain sukses karena perjodohan termasuk Mas Rafli.
Ah, aku jadi memikirkan siapa jodohku. Apakah aku akan merasakan perjodohan, meski aku sudah berpesan pada keluarga, untuk tidak menjodoh-jodohkanku?"
Selama 30 tahun, akupun sukses bergelar jomblo tampan. Tidak merasa gelisah memikirkan perasaan perempuan, tidak repot memilihkan hadiah ulangtahun, plus tidak mendapat rengekan manja ditelpon. Bagiku itu menggelikan.
Tapi semenjak bertemu dengannya seminggu yang lalu, saat penerimaan Santri Baru, aku mulai gelisah. Bagaimana tidak? Gadis itu berusia 12 tahun. Aku merasa akan gila jika cinta pertamaku betul betul pada gadis dibawah umur.
"Mas, ngomong-ngomong berapa usia Mbak Arina, permaisurimu?" tanyaku.
"Dua puluh empat tahun."
Aku terdiam, Usia istri Mas Rafli 24 tahun. Usia gadis yang mencuri hatiku saja layak menjadi keponakan Mbak Arina.
"Ah iya, Kau sendiri kapan akan membuka hati untuk perempuan?"
"Aku tidak tahu!" jawabku cuek, sambil membuka buku
"Kyak!"
"Jangan berteriak didepanku!" ucapku kesal.
"Bersiaplah, kita ke restoran Arab sekarang. Tidak jadi nanti."
Aku pun bangkit tanpa mengucapkan apa pun lagi, Mas Rafli mendengus.
***
"Mas membeli obat menjijikan ini?"
"Hei itu obat herbal, supaya aku semakin kuat. Suatu saat ketika kau telah menikahpun akan membutuhkan ini."
"Ck! Istrimu pasti kuwalahan. Bukankah saat malam pertamamu, aku sudah memberimu jamu?"
"Diamlah. Tolong pegang ini. Aku ingin ke toilet." ucapnya seraya memberikan kantong isi belanjaannya padaku.
Aku duduk di kursi depan kasir. Iseng, aku membuka belanjaan Mas Rafli satu satu. Tepat ketika aku mengeluarkan kotak bertuliskan 'Testpack', suara familiar itu terdengar ke telingaku.
"Assalamu'alaikum, Ustadz Baha."
Aku mendongak dan seketika berdiri karena terkejut. Nayaka?
"Ah, Wa'alaikumussalam, Nayaka." ucapku gugup, ia tersenyum manis.
Ya Allah ,,,,, kenapa harus gadis dua belas tahun?
"Nayaka, Ustadz ke toilet dulu."
Aku terburu buru menjauhkan diri darinya sebelum detak jantungku semakin tidak karuan. Tapi baru sekitar tiga langkah, suara Nayaka menghentikanku.
"Ustadz, Testpack-nya jatuh."
Kedua bola mataku membulat. Gadis polos itu benar benar ... haish! Aku memejamkan mata sejenak sebelum berbalik.
"Ah itu milik Ustadz Rafli." ucapku canggung.
"Tespack itu untuk apa, Ustadz?"
Aku menelan ludahku susah payah. Nayaka betul betul sukses memberiku banyak kejutan.
"Baha, maaf kalau lama menunggu."
Alhamdulillah Mas Rafli datang diwaktu yang tepat, Aku bisa bernafas lega.
"Oh, apa kau santri di sini juga?" tanya Mas Rafli sambil tersenyum pada Nayaka.
Nayaka mengangguk malu, kemudian menjawab "Iya, Ustadz. Saya siswi SMP Unggulan C juga."
Mas Rafli tersenyum dan mengangguk, kemudian keningnya berkerut saat melihat tangan Nayaka.
"Baha, belanjaanku?"
Aku terpengah, Benar. Belanjaan Mas Rafli? Itu ada di tangan Nayaka.
"Ah, tadi Ustadz Baha menjatuhkan ini saat berdiri." jawab Nayaka polos sambil memberikan Testpack itu pada Mas Rafli. Aku meringis pelan malu.
***
Terimakasih telah membaca teman teman
jangan lupa komen dan share sebanyak banyaknya agar aku semangat nulisnya.
Lanjutan : Cerpen Ustadz Tembok Part 3
Source : https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2822829024445637?sfns=mo
***
"Baha, apa kau sibuk?"
Aku yang sedang duduk sembari membaca buku seketika menoleh pada sumber suara. Mas Rafli.
"Ada apa mas?" tanyaku.
"Istriku ngidam kismis, dan nasi kebuli. Nanti sepulang mengajar, tolong temani aku ke restoran Arab ya? Sekalian mampir apotek beli Testpack." jawab Mas Rafli.
Keningku berkerut, dengan mata menyipit. "Ngidam? Kalian bahkan baru menikah selama dua minggu. Apa kalian melakukannya sebelum menikah?"
"Kyak! Pasca akad nikah saja aku tidak tahu istriku yang mana, bagaimana mungkin aku melakukannya sebelum menikah?"
Aku terkikik mengingat Mas Rafli menikah melalui perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Karena selama ta'aruf hanya melihat calon istri dalam foto saja. Jadi ia kebingungan mencari yang mana istrinya di dunia nyata. Terlebih busana yang dikenakan mempelai wanita dan para pengiringnya memiliki desain serta warna yang hampir mirip.
Aku ingat betapa pias wajahnya ketika melihat perempuan dengan make-up mencolok. Sebab Mas Rafli tidak menyukai perempuan ber make-up tebal.
Mbak Silvia, mantan kekasihnya saat kuliah dulu. Diterima cintanya oleh Mas Rafli karena hampir tidak pernah memakai make-up tebal.
"Hei, Baha!"
Aku tersadar dari lamunanku dengan masih mempertahankan kekehan geli.
Mas Rafli mendesah kasar. Kemudian dengan wajah lelah.
"Kau tahu? Aku membeli testpack dua kali dalam seminggu untuk memastikan bahwa usaha kami menghasilkan." ucapnya.
"Apa itu inisiatifmu?" tanyaku.
"Tentu saja bukan, bodoh!" sergahnya sambil memukul lenganku. Aku semakin terkikik.
"Aku pun tahu masa pembuahan membutuhkan waktu beberapa hari. Dan satu testpack itu cukup untuk sebulan asal penggunannya tepat." imbuhnya dengan wajah bersungut kesal.
Aku tertawa terbahak-bahak. Dan tawa ini hanya untuk kalangan sendiri, tidak untuk ditampilkan di luar area petinggi yayasan. Bahkan Asatidz-Asatidzah saja hampir tidak pernah melihatku tersenyum.
"Apa istrimu sepolos itu?" tanyaku masih dengan kikikan geli.
"Entahlah... Ia tidak sekolah formal, Baha. Hanya full mengabdi di ndalem kiai semenjak lulus SD, jadi mungkin ngaji kitab bab pernikahannya belum maksimal." ucapnya.
"Ia hanya memiliki ijazah paket. Tapi yang kusuka, ia sangan ta'dzim. Aku tidak tahu jika akan mendapat jodoh seunik itu." sambungnya dengan senyum cerah.
Aku mengangguk-angguk. Mas Rafli bahkan sudah bergelar Doktor, tapi mau menikahi perempuan lulusan SD demi berbakti kepada orang tua.
Mbak Arina sangat tidak sebanding dengan Mbak Silvia. Mas Rafli dan Mbak Silvia sama sama bergelar Doktor. Tapi Mbak Arina baik, putri Kiai juga.
"Aku tidak bisa membayangkan hidup dengan pernikahan karena perjodohan." ucapku
"Kau benar. Aku juga tidak pernah membayangkannya. Tapi disinilah ketaatan kita pada orang tua di uji. Kau tahu kan bagaimana oran tuaku tidak menyetujui hubunganku dengan Silvia?"
Akupun hanya bisa mengangguk lagi.
Itu salah satu alasan yang mebuatku akhirnya enggan memiliki kekasih.
Lima sahabatku jatuh cinta, kemudian menjalin kasih saat kuliah, tapi hanya Mas Radika yang cintanya sukses hingga menikah dengan Ning Ana. Yang lain sukses karena perjodohan termasuk Mas Rafli.
Ah, aku jadi memikirkan siapa jodohku. Apakah aku akan merasakan perjodohan, meski aku sudah berpesan pada keluarga, untuk tidak menjodoh-jodohkanku?"
Selama 30 tahun, akupun sukses bergelar jomblo tampan. Tidak merasa gelisah memikirkan perasaan perempuan, tidak repot memilihkan hadiah ulangtahun, plus tidak mendapat rengekan manja ditelpon. Bagiku itu menggelikan.
Tapi semenjak bertemu dengannya seminggu yang lalu, saat penerimaan Santri Baru, aku mulai gelisah. Bagaimana tidak? Gadis itu berusia 12 tahun. Aku merasa akan gila jika cinta pertamaku betul betul pada gadis dibawah umur.
"Mas, ngomong-ngomong berapa usia Mbak Arina, permaisurimu?" tanyaku.
"Dua puluh empat tahun."
Aku terdiam, Usia istri Mas Rafli 24 tahun. Usia gadis yang mencuri hatiku saja layak menjadi keponakan Mbak Arina.
"Ah iya, Kau sendiri kapan akan membuka hati untuk perempuan?"
"Aku tidak tahu!" jawabku cuek, sambil membuka buku
"Kyak!"
"Jangan berteriak didepanku!" ucapku kesal.
"Bersiaplah, kita ke restoran Arab sekarang. Tidak jadi nanti."
Aku pun bangkit tanpa mengucapkan apa pun lagi, Mas Rafli mendengus.
***
"Mas membeli obat menjijikan ini?"
"Hei itu obat herbal, supaya aku semakin kuat. Suatu saat ketika kau telah menikahpun akan membutuhkan ini."
"Ck! Istrimu pasti kuwalahan. Bukankah saat malam pertamamu, aku sudah memberimu jamu?"
"Diamlah. Tolong pegang ini. Aku ingin ke toilet." ucapnya seraya memberikan kantong isi belanjaannya padaku.
Aku duduk di kursi depan kasir. Iseng, aku membuka belanjaan Mas Rafli satu satu. Tepat ketika aku mengeluarkan kotak bertuliskan 'Testpack', suara familiar itu terdengar ke telingaku.
"Assalamu'alaikum, Ustadz Baha."
Aku mendongak dan seketika berdiri karena terkejut. Nayaka?
"Ah, Wa'alaikumussalam, Nayaka." ucapku gugup, ia tersenyum manis.
Ya Allah ,,,,, kenapa harus gadis dua belas tahun?
"Nayaka, Ustadz ke toilet dulu."
Aku terburu buru menjauhkan diri darinya sebelum detak jantungku semakin tidak karuan. Tapi baru sekitar tiga langkah, suara Nayaka menghentikanku.
"Ustadz, Testpack-nya jatuh."
Kedua bola mataku membulat. Gadis polos itu benar benar ... haish! Aku memejamkan mata sejenak sebelum berbalik.
"Ah itu milik Ustadz Rafli." ucapku canggung.
"Tespack itu untuk apa, Ustadz?"
Aku menelan ludahku susah payah. Nayaka betul betul sukses memberiku banyak kejutan.
"Baha, maaf kalau lama menunggu."
Alhamdulillah Mas Rafli datang diwaktu yang tepat, Aku bisa bernafas lega.
"Oh, apa kau santri di sini juga?" tanya Mas Rafli sambil tersenyum pada Nayaka.
Nayaka mengangguk malu, kemudian menjawab "Iya, Ustadz. Saya siswi SMP Unggulan C juga."
Mas Rafli tersenyum dan mengangguk, kemudian keningnya berkerut saat melihat tangan Nayaka.
"Baha, belanjaanku?"
Aku terpengah, Benar. Belanjaan Mas Rafli? Itu ada di tangan Nayaka.
"Ah, tadi Ustadz Baha menjatuhkan ini saat berdiri." jawab Nayaka polos sambil memberikan Testpack itu pada Mas Rafli. Aku meringis pelan malu.
***
Terimakasih telah membaca teman teman
jangan lupa komen dan share sebanyak banyaknya agar aku semangat nulisnya.
Lanjutan : Cerpen Ustadz Tembok Part 3
Source : https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2822829024445637?sfns=mo

Lanjutin kak