Cerpen Ustadz Tembok Part 1

Part 1 : Goa Tembok
***

Struktur wajah tegas, datar, tanpa ekspresi, dan tanpa senyum. Persis seperti security Istana Buckingham. Itulah aku.
Banyak orang bilang; dibanding Ustadz Cool, aku lebih tepat jika dijuluki sebagai ‘Ustadz Tembok’.
Ah, ada lagi julukan yang lebih ekstrim. Dan julukan itu auto membuatku meradang jengkel
‘Ustadz Goa Tembok’
“Goa itu dingin, dan dingin itu elu,” ucap Bang Syahid—kala itu—dengan logat betawi yang kental.
“Tembok itu rata. Dan muka rata itu, kau,” sambung Mas Naufal, disusul dengan ungkapan-ungkapan serupa oleh ketiga sahabatku yang lain, kemudian di akhiri dengan terbahak-bahak.
Aku mendengus kesal. Apa aku separah itu?
Tapi jika dipikir-pikir, mereka ada benarnya. Aku memang berwajah dingin dan berekspresi datar, tapi haruskah mereka memperjelas? Padahal, sebenarnya kami berenam memiliki ekspresi yang lumayan mirip.
Baiklah! Aku memang yang terparah. Tapi itu karena aku satu-satunya yang belum terkontaminasi wabah cinta hingga menikah.
Belum terkontaminasi? Astaghfirullah ... aku bahkan sudah gila karena jatuh cinta pada gadis mungil berusia duabelas tahun.
Teringat kembali dengan kalimat Pakdhe Tedjo.
“Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.”
Ya, mungkin ... kalimat terakhir dalam nasihat Pakdhe Tedjo itulah yang tepat untuk menggambarkan kondisi hatiku saat ini.
Dalam urusan menikah—selama tiga puluh tahun hidupku—aku belum pernah merencanakannya. Lebih-lebih tentang cinta.
Aku percaya tentang cinta, karena Allah pun Maha Cinta. Namun aku lebih sering mengabaikan perkara itu, karena masih lebih tertarik—atau bisa di katakan terobsesi, pada dunia pendidikan.
Ibuku sudah puluhan kali menyodorkan foto gadis. Bagaimana tanggapanku? Belum tertarik.
Akan tetapi, gadis itu memutar duniaku dalam waktu sekejap.
Aku bukan orang yang percaya dengan teori “Love At First Sight” atau cinta pada pandangan pertama. Namun, senyum tulus dan mata berbinarnya di awal pertemuan kami, membuat jantungku serasa akan melompat dari tempatnya.
Bukan! Ia bukan gadis yang sangat cantik. Sama sekali bukan! Bahkan ia tergolong gadis biasa yang tidak memiliki banyak keistimewaan dari segi fisik.
Ok! itu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah; usia. Astaghfirullah. Aku ingin mengutuk diriku sendiri.
Gadis yang membuat jantungku berulah. Ia ... bahkan usianya masih dua belas tahun.
Jika mengingat jarak usia kami, aku merasa seperti Pedofil gila yang mengincar mangsanya.
Meskipun Sayyidah Aisyah di nikahi Rasulullah SAW saat beliau berusia enam tahun. Tapi Rasulullah itu Ma’shum, dan Sayyidah Aisyah pun sangat mulia.
Sedangkan? Aku hanya butiran pasir dibawah timbunan e’ek kucing. Dan aku hanya manusia biasa tanpa keistimewaan apa-apa.
Mungkin beberapa suku di Indonesia, ada yang menikahkan putri mereka di usia yang sangat belia—dengan pria yang usianya tidak muda lagi.
Tapi ini sangat tabu bagiku. Karena setahuku, kebanyakan dari mereka yang menikahkan putri belianya, adalah mereka yang hidup di lingkungan pedesaan atau pedalaman—yang tidak memiliki cukup biaya untuk menyambung sekolah. Lalu pada akhirnya memilih menikah sebagai opsi terakhir.
Sementara aku? Ya Allah ... Aku hidup di lingkungan perkotaan yang memandang tabu—pada pernikahan dengan gadis belia. Apalagi dengan rentang usia yang cukup jauh.
Apa yang kurasakan ini normal? Atau hanya emosi sesaat karena di usia sematang ini, aku belum pernah tertarik pada perempuan?
Entahlah ... aku bingung dengan diriku sendiri. Aku sangat beruntung dalam banyak hal. Tapi merasa payah dalam hal perempuan.
Misteri perasaanku, hanya aku yang tahu.
***
Bersambung...


Terimakasih sudah membaca... Jangan lupa Comment & Share. Biar aku makin semangat nulisnya.

Sumber https://web.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2821959414532598/
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url