Cerpen Ustadz Tembok Part 5

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebelum membaca Part 5 diharapkan teman teman sudah membaca dari Part 1 ya,,,


Part 5 : Bukan Drama Picisan

***


Aku berjalan menghampiri Nayaka dari arah samping. Jantungku serasa dipacu. Berdetak lebih cepat dan semakin cepat.

Rasanya aku seperti tiba-tiba mendengar lagu ‘Colbie Caillat’ mengiringi langkahku, seperti penggalan moment dalam drama picisan yang sering ditonton dua keponakanku.

Aku berusaha tidak peduli pada debaran jantungku. Karena aku betul-betul Merindukannya.

Agh! Apa jatuh cinta memang harus se-gila ini? Aku bahkan bukan remaja belasan tahun. Tapi aku seperti remaja, yang terjebak dalam raga pria dewasa.

“Assalamu’alaikum, Nayaka.”

Nayaka menoleh ke samping, dan ... tiba-tiba aku lupa caranya bernapas. Lidahku kelu. Aku menelan ludahku susah payah.

Dalam hati aku terus merapal, ‘kau hanya menyapa anak SMP, Baha. Kau tidak perlu segugup itu’.

Lagipula, jarak kami pun mungkin sekitar tiga meter, yang artinya tidak terlalu dekat.

“Wa’alaikumussalam,” ucapnya menjawab salam. “Oh, Ustadz Baha ...” sambungnya lalu berdiri.

Pandangan kami bertemu. Nayaka ... bahkan ketika ia tersenyum, matanya seolah ikut tersenyum. Hatiku menghangat. Nayaka, gadisku.

Aku merasa bahwa aku telah tertular Virus Qais yang gila karena cintanya terhadap Laila.

“Ustadz sudah lama, di sini?” tanya Nayaka ramah.

Pertanyaan Nayaka membuyarkan monolog dalam hatiku. Pertanyaan itu ... sudah lama di sini?

Astaghfirullah. Aku tergagap, kebingungan mencari jawaban. Tidak mungkin kukatakan, ‘sejak kau dan Safira masuk ke gedung ini’ bukan?

Haish!
Buku. Ya ... buku. Mataku terkunci pada buku yang berada di tangan Nayaka. Buku itu bisa kugunakan untuk mengalihkan pertanyaan.

“Nayaka, ini hari Ahad. Bukankah tidak ada pelajaran kimia?” tanyaku.

“Oh, buku ini ....” jawab Nayaka sambil menunjuk buku di tangannya.

Nayaka terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku. Mungkin ia takut aku akan memarahinya, seperti Safira. Aku mencoba mencairkan suasana canggung ini dengan mengambil duduk di dekat tempatku berdiri, sedangkan Nayaka kembali ke tempat di mana ia duduk tadi.

“Saat liburan kenaikan kelas nanti, Nayaka akan mengikuti olimpiade kimia tingkat internasional, Ustadz. Jadi ... Nayaka harus belajar lebih giat,” jawabnya jujur.

Aku mengangguk, lalu senyum. Nayaka tidak mencoba menutupi apapun dariku.

Ah, ya. Aku sadar, dia santri dan siswi di sini, jelas saja dia berusaha untuk terbuka pada gurunya.

Aku memejamkan mataku—pelan, menghilangkan rasa percaya diri berlebih yang timbul begitu saja.

“Meskipun rajin belajar, tapi hari ahad bisa kau gunakan untuk menenangkan diri. Kau, tidak boleh melupakan bahwa tubuh manusia butuh istirahat. Jika kau memforsir waktumu untuk belajar terus-menerus, lalu kau sakit saat tiba waktu olimpiade, bagaimana?” tanyaku.

Ia mengangguk pelan, terlihat mempertimbangkan ucapanku. Tak lama kemudian, senyumnya terbit.

“Naya ingin meminta saran dan nasihat, Ustadz. Naya sering kesulitan dalam memahami pelajaran. Karena itu, Naya merasa harus belajar lebih giat,” kata Nayaka dengan senyum sendu. Ia menunduk.

“Teruslah berpikir positif,” jawabku singkat.

Nayaka mendongak. Ia menatapku penuh minat, seperti menunggu kalimat selanjutnya yang akan ku ucapkan.

Sikapnya itu, sukses membuatku semakin gugup. Tapi meski begitu, karena sudah sering menghadapi siswi seperti ini, jadi tidak terlalu sulit untuk berusaha terlihat biasa saja.

“Kau tau? Pikiran positif akan membawa kita pada Optimisme atau sikap yang selalu mempunyai harapan baik. Kahlil Gibran, pernah mengatakan bahwa; orang-orang Optimis, ketika melihat bunga mawar, ia fokus pada mawarnya, bukan durinya. Sedangkan orang-orang Pesimis, terpaku pada duri dan melupakan mawarnya. Kau paham tentang itu?” tanyaku.

Nayaka menggeleng polos, dengan ekspresi menggemaskan. Ya Allah ... perasaan ini membuatku semakin takut jika gelar pedofil benar-benar kusandang.

“Banyak orang, ketika menghadapi suatu masalah, ia fokus pada masalahnya tanpa memikirkan bagaimana jalan keluarnya. Tapi setiap pribadi yang optimis, memandang bahwa segala masalah, pasti ada jalan keluarnya.”

Nayaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Mencerna apa yang kukatakan.

Satu lagi yang kupelajari darinya. Meskipun keras kepala, ia ternyata juga pendengar yang baik.

“Abah Kiai pernah dawuh, Nayaka tahu dawuh?”

Nayaka menggeleng. Aku terkekeh pelan. Apa dia benar-benar belum memiliki teman dari Jawa? Aku jadi mengingat masa saat pertama kali nyantri di sini.

“Dawuh itu berkata, Nayaka. Itu bahasa jawa,” jawabku.

“Woah ... Naya belum berteman dengan santri-santri dari Jawa, Ustadz. Jadi Naya tidak tahu.” Kami berdua terkekeh.

“Abah Kiai pernah dawuh; Segala persoalan atau permasalahan, akan terlihat besar di mata orang-orang kecil. Tapi segala permasalahan akan terlihat kecil, di mata orang-orang besar. Pilihan ada di tanganmu, tinggal kau ingin menjadi orang kecil, atau orang besar,” terangku.

“Tentu saja Naya ingin jadi orang besar, Ustadz. Ayah dan ibu pasti bangga,” ungkapnya.

Nayaka, bahkan saat seperti ini, yang ada dalam benakmu hanya kedua orang tuamu. Kau benar-benar mengagumkan.

“Kau harus mengatur waktumu sebaik mungkin, Nayaka. Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Kau tau bedanya orang sibuk dengan orang produktif?”

Nayaka menggeleng. Aku tersenyum tipis.

“Assalamu’alaikum.”

Ah, itu dia suara Safira. Kami berdua tersenyum, kemudian menjawab salam. Safira terlihat membawa kotak makan. Ternyata ia benar-benar membawakan makan untuk Nayaka. Safira sahabat yang baik, aku cukup lega.

“Naya, apa Ustadz, sudah lama di sini?”

“Ustadz datang saat kau pergi mengambil makan, Fir,” Nayaka menjawab pertanyaan Safira. Safira tersenyum.

“Apa ada hal penting yang sedang Ustadz dan Naya bahas? Jika sangat penting, biar saya pergi, Ustadz.”

Aku tersenyum. “Kami sedang membicarakan tentang belajar dan olimpiade,” jawabku.

“Woah ... Safira boleh ikut? Fira juga ingin belajar, Ustadz.”

“Boleh, Safira. Sangat boleh.”

Kami semua tersenyum. Safira memiliki semangat yang sama dengan Nayaka. Aku semakin lega karena Nayaka mendapatkan teman yang tepat.

Aku menarik napas sebelum kembali bicara.

“Bekerja, bekerja, dan terus bekerja itu ciri-ciri orang sibuk. Ia tidak peduli tentang kesehatan. Tapi orang Produktif, tahu kapan harus berhenti bekerja dan kapan harus istirahat.

Begitu pula dengan belajar. Kalau kita memforsir waktu dan pikiran kita untuk belajar terus-menerus, ilmu yang masuk ke dalam otak kita juga tidak maksimal, yang ada kau akan sakit kepala.” aku tersenyum dan bernapas sejenak.

“Kita harus selalu bersyukur kepada Allah, Nayaka, Safira. Nah ... memperhatikan kesehatan juga bagian dari rasa syukur kita pada Allah.”

“Kau dengar itu, Nay?”

Nayaka mengerucutkan bibirnya ke arah Safira. Aku terkekeh geli. Ia terlihat semakin bersemangat. Aku tersenyum dan sudah merasa lebih santai, tidak segugup tadi.

“Wah ... ternyata selama ini, Nayaka menjadi orang sibuk, ya,” kata Nayaka sambil terkikik geli.

Aku tersenyum lebar. Bagaimana Nayaka bisa sangat imut dan menggemaskan diwaktu bersamaan?

Oh, Ya Allah ... kegilaanku semakin menjadi. Aku kembali merutuki diriku sendiri.

“Kalau begitu, Nayaka akan istirahat sebelum mulai belajar lagi,” sambungnya.

“Mmm ... itu bagus, Nayaka,” ucapku.

“Itu baru sahabatku,” ucap Safira. Nayaka mendengus kesal.

“Sejujurnya, Ustadz. Nayaka ingin melanjutkan SMA di Jepang. Nayaka ingin mandiri, ingin membuat ayah dan ibu lebih bangga, apakah bisa?”sambungnya—lagi. Ia menunduk sedih.

Tenggorokanku tercekat. Senyumku memudar, di ganti dengan perasaan ... takut.

Bisakah aku jauh darinya?

Meski kami jarang bertatap wajah seperti ini, tapi selama ia masih berada dalam jarak pandangku, aku tidak setakut ini.

“Safira juga, Ustadz.”

Aku mengangguk lemah dan memaksakan senyumku.

“Tentu saja kalian bisa. Kalian harus belajar dengan giat.”

Kucoba memaksakan senyum. Mereka berdua mengangguk semangat.

“Kalau begitu, Ustadz pergi dulu. Kalian makanlah. Jika ingin terus berprestasi, kalian harus sehat. Assalamu’alaikum.”

“Siap, Ustadz. Wa’alaikumussalam.”

***

Bersambung...
Source : https://web.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2833540160041190/

Terimakasih telah membaca
Jangan lupa komen dan share sebanyak banyaknya yahh agar aku makin semangat nulisnya
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url