Berikut Contoh Soal dan Jawaban Pengauditan 1
1. Bagaimana suatu bukti dikatakan kompeten ? Implikasikan dengan contoh pada perusahaan dagang, jasa, dan manufaktur.
Dari sekian bukti audit yang diperoleh
auditor, klasifikasikan berdasarkan tingkat kompetensi , asersi apa digunakan dan darimana perolehan
sumber bukti ?
2. Audit
pemeriksaan piutang usaha dan piutang lainnya telah terjadi pada PT Rayyannet
yang melaporkan kartu piutang dan daftar umur piutang pada laporan posisi
keuangan sebagai berikut
Umur Piutang
Nominal
Persentase
Piutang
Tak Tertagih Taksiran Piutang
Tak Tertagih
1-30 Hari Rp56.000.000 2% Rp1.120.000
31-60 Hari Rp41.500.000 15% Rp6.225.000
61-90 Hari Rp29.700.000 25% Rp7.425.000
> 90 Hari Rp9.300.000 75% Rp6.975.000
Rp136.500.000 Rp21.745.000
Kasus audit piutang usaha dan piutang
lainnya berawal dari pemeriksaan auditor dimana terjadi penghapusan saldo
piutang yang terotorisasi sebesar Rp 2.300.000 dan saldo awal sebesar Rp
10.000.000. Apabila taksiran piutang tak tertagih sebesar 2%, 20%, 35% dan 80%,
Prosedur audit apa yang dilakukan auditor? Dan Bagaimana jurnal penyesuaian
yang diperlukan.
3. Standar
audit sebagaimana dijelaskan dalam Pernyataan Standar Auditing (PSA) yaitu
ketentuan dan pedoman utama yang harus diterapkan oleh akuntan publik dalam
melaksanakan audit bahwa seorang auditor harus memiliki keahlian dalam bidang
akuntansi. Kepatuhan terhadap PSA yang disahkan oleh Institut Akuntan Publik
Indonesia (IAPI) yang bersifat wajib bagi seluruh anggota IAPI. Seorang Auditor
Profesional haruslah memiliki keahlian dalam hal teknis audit dan akuntansi.
Apa saja standar audit yang harus dipenuhi ? Apabila apa beberapa komponen dalam standar audit yang tidak/belum dipenuhi auditor, bagaimana untuk mengatasi masalah tersebut?
4. Apa itu kode etik Profesi akuntan dan bagaimana auditor dapat meningkatkan ke efektifannya?
5. Apa persamaan kode etik yang lama dengan yang baru
Jawaban
1. - Relevansi (Relevance). bukti audit
yang relevan haruslah sesuai jika digunakan untuk maksud tertentu, yang dalam
ini berarti harus berhubungan dengan tujuan auditor. Jika tujuan auditor adalah
untuk menentukan keberadaan suatu persediaan, auditor bisa mendapatkan buktinya
dengan melakukan observasi langsung pada persediaan tersebut.
- Sumber Perolehan (Sources), sumber
informasi sangat berpengaruh pada kompetensi bukti audit. Sumber informasi yang
dapat mempengaruhi kompetensi bukti adalah sbb: 1) Jika sumber informasi
didapatkan dari sumber independen di luar perusahan, 2) Semakin efektif
struktur pengendalian internal perusahaan, maka semakin besar jaminan yang
diberikan atas keandalan data akuntansi dan laporan keuangan, 3) Pengetahuan
auditor secara pribadi dan secara langsung dari pemeriksaan fisik, pengamatan,
penghitungan, dan inspeksi lebih meyakinkan daripada informasi yang didapat
secara tidak langsung.
- Ketepatan Waktu (Timeliness), ketepatan
waktu berhubungan dengan tanggal penggunaan bukti audit. Kriteria ini menjadi
penting khususnya untuk memverifikasi aktiva lancar, utang lancar, dan akun
surplus-defisit karena bisa mengecek apakah cut off sudah dilakukan dengan
tepat.
- Objektivitas (Objectivity), bukti audit
yang objektif dipandang lebih kompeten jika dibandingkan dengan bukti audit
yang bersifat subjektif. Untuk menilai objektivitas bukti audit, diperlukan
juga penilaian atas kualifikasi personal yang memberikan bukti tersebut.
Implikasi pasa perusaaan dagang yaitu
tertera pada bukti bukti transaksi seperti kwitansi, Nota Debet, nota kredit
dan lainnya. Sedangkan pada perusahaan jasa juga memiliki implikasi yang hampir
sama seperti perusahaan dagang seperti bukti kas masuk, bukti kas keluar, dan
lainnya. Untuk perusahaan manufaktur seperti nota invoice, Purchase order, dan
Purchace Requistion. Peroleha sumber bukti didapat dari transaksi transaksi kegiatan
usaha yang dijalankan.
2.
Umur Piutang Nominal Persentase
Piutang tak tertagih Taksiran Piutang tak
tertagih
1-30 hari Rp.56.000.000 2% Rp
1.120.000
31-60 hari Rp.41.500.000 20% Rp
8.300.000
61-90 hari Rp.29.700.000 35% Rp
10.395.000
>90 hari Rp.9.300.000 80% Rp
27.255.000
Rp.136.500.000
Prosedur audit apa yang dilakukan auditor
adalah melakukan perhitungan.
Jurnal penyesuaian
Kerugian Piutang Tak Tertagih Rp.5.510.000
Cadangan Piutang tak Tertagih Rp.5.510.000
3. Standar audit yang harus dipenuhi oleh
auditor yaitu :
• Kompeten
Untuk menjamin kompetensinya, seorang
auditor harus memiliki keahlian di bidang auditing dan memiliki pengetahuan
yang cukup mengenai bidang yang diauditnya. Kompetensi auditor ditunjukkan oleh
latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimiliki. Idealnya seorang
auditor memiliki latar belakang pendidikan (formal atau sertifikasi) di bidang
auditing.
• Independensi
Independen yaitu bebas dari pengaruh baik
terhadap manajemen yang bertanggung jawab atas penyusunan laporan maupun
terhadap pengguna laporan. Hal ini dilakukan agar auditor tersebut bebas dari
pengaruh subjektivitas para pihak yang terkait. Sehingga pelaksanaan dan hasil
auditnya dapat diselenggarakan secara objektif.
• Cermat dan Seksama
Auditor dalam melaksanakan tugas harus
menggunakan keahliannya dengan cermat, direncanakan dengan baik. Selain itu
menggunakan pendekatan yang sesuai, dan memberikan pendapat berdasarkan bukti
yang cukup dan dikaji secara mendalam. Institusi audit harus melakukan
pengendalian mutu yang memadai, organisasinya ditata dengan baik. Selain itu
juga, diikutsertakan dalam pelatihan yang berkesinambungan, pelaksanaan
kegiatannya disupervisi dengan baik, dan hasil pekerjaannya direview secara
memadai.
Apabila ada beberapa komponen dalam standar
audit yang tidak/belum dipenuhi auditor maka dengan lebih baiknya jika auditor
segera untuk memenuhi atau mencari komponen yang belem terpenuhi agar sesuai
dengan aturan komponen auditor yang berlaku.
5. Kode Etik Akuntan mengenai Integritas secara pengertian pada intinya adalah sama antara kode etik yang lama dengan yang baru. Kode etik tersebut menjelaskan seorang akuntan profesional harus bertindak tegas dan jujur dalam semua hubungan bisnis dan profesionalnya. Namun, Kode Etik yang terbaru lebih lengkap penjelasannya dengan menambahkan ancaman dan pencegahan atas kode etik yang dimaksud, sedangkan Kode Etik yang lama hanya menjelaskan pengertian dari kode etik Integritas, tanpa menjelaskan bagaimana ancamannya jika seorang akuntan tidak memenuhi kode etik tersebut dan bagaimana pencegahan atas ancaman yang terjadi.
