Cerpen Islami : Ustadz Tembok Part 8
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebelum membaca Part 8 diharapkan teman teman telah membaca dari Part 1 ya...
Selamat membaca....
Part 8 : Wanita Mulia Bernama Hana
***
“Nayaka ... apa kau yakin dia akan berhasil dalam olimpiade ini? Maksudku, dia bahkan tidak aktif di kelas,” sambungnya.
Hah! Aku bernafas lega. Mas Radika tidak menanyakan perasaanku. Kupikir dia tau sesuatu. Aku menormalkan kembali ekspresi wajahku.
“Kita tidak tau potensi tersembunyi setiap santri, Mas. Kurasa apapun menjadi mungkin,” jawabku berusaha untuk terlihat biasa saja.
“Benarkah?” tanya Mas Radika ragu.
“Mmm ....” aku menggumam datar.
Mas Radika menghela napas panjang.
“Baha, ada beberapa laporan masuk pada Mas, bahwa kau tidak pernah masuk di kelas unggulan C ...,”sambungnya. Aku masih menanti kalimat berikutnya. “Kau tidak ada masalah dengan kelas itu?”
Aku menggeleng lemah. Sungguh! Aku memang tidak memiliki masalah dengan kelas Nayaka. Aku hanya memiliki masalah dengan diriku sendiri.
“Nayaka mengatakan, kelasnya menjadi satu-satunya kelas yang kau hindari. Karena it—“
“Tunggu! Nayaka? Mas, dekat dengannya?” tanyaku menyela pertanyaan Mas Radika.
Untuk sejenak Mas Radika menatapku dengan kening berkerut—lagi. Aku merutuki diri sendiri karena pertanyaan bodohku.
“Ah maksudku—“
“Almarhumah ibu Nayaka, merupakan salah satu sahabat baik mas sejak SD.”
Kali ini Mas Radika menyela dan ucapannya membuatku terkejut.
Apa ini sebuah kebetulan? Aku menyukai gadis yang dekat dengan sahabatku.
Tapi tunggu! Usia Mas Radika saat ini tiga puluh enam tahun, Nayaka berusia empat belas tahun, artinya Ibu Nayaka menikah di usia?
“Delapan belas tahun ....”
Seolah mengerti dengan apa yang kupikirkan, Mas Radika menjawab dengan serius.
“Hana—ibu dari Nayaka—menikah di usianya yang ke delapan belas tahun. Ia pada mulanya tidak menyukai Mas Syakib. Butuh waktu beberapa tahun untuk ia bisa menerima Mas Syakib sebagai suaminya. Butuh waktu beberapa tahun pula, untuk kemudian melahirkan gadis kecil sebaik Nayaka.
Bukan karena Mas Syakib buruk, Mas Syakib bahkan sangat baik. Tapi Hana memiliki impian ingin menjadi dokter,”sambungnya.
Tatapan sendu Mas Radika mengarah langsung padaku. Aku terdiam dan tergugu. Ia tidak terlihat seperti Mas Radika yang biasanya.
“Hana yatim piatu. Orang tuanya meninggal saat ia berusia delapan tahun karena sakit. Keluarga Hana, baik dari ayah atau ibu tidak ada yang bersedia mengurusnya, akhirnya ia di titipkan di panti asuhan oleh keluarga besarnya.
Karena kami berada dalam satu sekolah, sejak sekolah dasar. Juga kebetulan panti asuhan itu dekat dengan rumah lama Mas, kami akhirnya bersahabat baik bahkan hingga saat ini.”
Hatiku mencelos. Aku bisa merasakan posisi Mas Radika sebagai sahabat ibu dari Nayaka.
Hatiku ikut terkoyak. Tetesan bening keluar dari pelupuk mata Mas Radika. Ia terlihat sangat menyayangi sahabatnya.
“Mas melihat bagaimana Hana memasang wajah datar ketika keluarga besar dari ayah maupun ibu—justru mengirimnya ke panti asuhan.
Mas sedang bermain di panti, ketika itu. Hana diam, tidak melawan, tidak merajuk untuk dibawa pulang, juga tidak menangis.
Keluarga besar Hana betul-betul payah dalam sebuah hubungan kekeluargaan, padahal kehidupan mereka sangat berkecukupan.”
“Mas menyukai, almarhumah Bu Hana?”
Mas Radika tersenyum. “Persahabatan laki-laki dan perempuan, mustahil jika tidak ada bumbu saling menyukai, Baha. Terlebih gadis itu adalah Hana, yang berhati lembut meski wajahnya terlihat garang.
Sangat mudah untuk menyukai gadis cerdas sepertinya. Tapi bagi Mas, kebahagiaan dan impian Hana adalah segalanya.
Hana, memiliki impian terbesar, yaitu menjadi dokter ahli. Tapi Hana sedih karena tidak mendapat dukungan dari pihak panti asuhan. Mas juga tidak mampu membantu apa-apa. Dan puncaknya ialah ketika lulus SMA.
Ibu panti tiba-tiba menjodohkannya dengan Mas Syakib. Ibu panti mengatakan bahwa Mas Syakib yang akan menguliahkan Hana.
Entah bagaimana ceritanya, Hana menyetujui pernikahan itu. Kesulitan hidup membuatnya sering mengalah pada keadaan.
Tapi kesulitan Hana tidak berhenti di situ, karena Almarhumah ibu Mas Syakib ternyata tidak sepenuhnya menerima Hana, setelah mengetahui ia berasal dari panti asuhan.”
Mas Radika membuang napasnya kasar.
“Mas tidak bisa menceritakan seluruh detailnya padamu, Baha. Tapi Mas harap kau mengerti satu hal. Nayaka menganggap, kau tidak menyukai kelasnya. Karena itu ia belajar siang malam agar bisa lolos seleksi olimpiade internasional.
Ia ingin membuktikan bahwa kelasnya layak di datangi oleh kepala sekolah mereka yang tampan.
Kau tau? Nayaka pernah memiliki keinginan untuk pindah dari sekolah ini, karena ia pikir kepala sekolah mereka tidak menginginkan kelas unggulan C.”
Aku terhenyak. Hatiku serasa di remas. Lagi-lagi aku merasa gila dan bodoh dengan diriku sendiri. Secara tidak langsung, aku sudah menyakiti gadis yang kucintai setiap hari.
Ya Allah ... apa yang sudah kulakukan? Aku mencintainya, tapi cintaku justru menyakitinya. Aku tidak ingin ia pergi, tapi sikapku mendorongnya untuk pergi.
Inikah alasan Nayaka ingin meneruskan SMA di jepang? Karena ia merasa kelasnya tidak di anggap?
“Apapun alasanmu tidak mengajar di kelas Nayaka, ku harap kau tidak pernah menyakiti anak-anak santri dengan cara ini lagi. Aku dan Ana sudah menganggap Nayaka seperti putri kami sendiri, jadi tolong hargai dan jangan sakiti dia. Assalamu’alaikum.”
Mas radika meninggalkanku di ruangannya. Ia memberiku waktu untuk merenungi segala yang kulakukan. Memperbaiki pikiran yang berkecamuk dalam otakku yang bebal.
Kedua tanganku mengepal, aku merasa marah pada diriku sendiri yang menjadi lemah karena jatuh cinta.
Aku tidak ingin menjadi seperti Qais yang gila karena cintanya pada Laila, tapi aku tak bisa menyangkal bahwa perasaanku pada Nayaka bukan perasaan yang dapat kuanggap sepele.
Karena nyatanya, aku bahkan tidak mampu jika harus jauh darinya. Nyatanya, Nayaka se-berpengaruh itu pada seluruh aktivitasku.
‘Bila cinta telah berlabuh, tidak ada lagi ruang dalam hati bagi dunia dan warna-warninya. Bias cahaya cinta yang semarak gemerlap, mampu membakar kesabaran dan rasionalitas. Rasa duka dan kecemasan akan keselamatan diri, sirna. Caci maki dan umpatan buruk orang tidak lebih berat daripada beban segenggam debu. Apa saja yang menghalangi cinta adalah angin lalu, atau gonggongan anjing membuat kafilah cinta semakin menderu.’- Molla Nuruddin Abdurrahman Jami.
Aku mengusap wajahku kasar. Aku ingin sekali berteriak. Aku ingin sekali berhenti memikirkannya barang sebentar. Tapi itu justru semakin menyulitkanku.
Nayaka ... seandainya kau sudah dewasa, mungkin semua tidak akan sesulit ini. Kau ... bahkan usiamu masih empat belas tahun saat ini. Astaghfirullah.
***
Bersambung...
Terimakasih teman teman telah membaca... Jangan lupa komen dan share sebanyak banyaknya...
Source : https://web.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2839299539465252/
Sebelum membaca Part 8 diharapkan teman teman telah membaca dari Part 1 ya...
Selamat membaca....
Part 8 : Wanita Mulia Bernama Hana
***
“Nayaka ... apa kau yakin dia akan berhasil dalam olimpiade ini? Maksudku, dia bahkan tidak aktif di kelas,” sambungnya.
Hah! Aku bernafas lega. Mas Radika tidak menanyakan perasaanku. Kupikir dia tau sesuatu. Aku menormalkan kembali ekspresi wajahku.
“Kita tidak tau potensi tersembunyi setiap santri, Mas. Kurasa apapun menjadi mungkin,” jawabku berusaha untuk terlihat biasa saja.
“Benarkah?” tanya Mas Radika ragu.
“Mmm ....” aku menggumam datar.
Mas Radika menghela napas panjang.
“Baha, ada beberapa laporan masuk pada Mas, bahwa kau tidak pernah masuk di kelas unggulan C ...,”sambungnya. Aku masih menanti kalimat berikutnya. “Kau tidak ada masalah dengan kelas itu?”
Aku menggeleng lemah. Sungguh! Aku memang tidak memiliki masalah dengan kelas Nayaka. Aku hanya memiliki masalah dengan diriku sendiri.
“Nayaka mengatakan, kelasnya menjadi satu-satunya kelas yang kau hindari. Karena it—“
“Tunggu! Nayaka? Mas, dekat dengannya?” tanyaku menyela pertanyaan Mas Radika.
Untuk sejenak Mas Radika menatapku dengan kening berkerut—lagi. Aku merutuki diri sendiri karena pertanyaan bodohku.
“Ah maksudku—“
“Almarhumah ibu Nayaka, merupakan salah satu sahabat baik mas sejak SD.”
Kali ini Mas Radika menyela dan ucapannya membuatku terkejut.
Apa ini sebuah kebetulan? Aku menyukai gadis yang dekat dengan sahabatku.
Tapi tunggu! Usia Mas Radika saat ini tiga puluh enam tahun, Nayaka berusia empat belas tahun, artinya Ibu Nayaka menikah di usia?
“Delapan belas tahun ....”
Seolah mengerti dengan apa yang kupikirkan, Mas Radika menjawab dengan serius.
“Hana—ibu dari Nayaka—menikah di usianya yang ke delapan belas tahun. Ia pada mulanya tidak menyukai Mas Syakib. Butuh waktu beberapa tahun untuk ia bisa menerima Mas Syakib sebagai suaminya. Butuh waktu beberapa tahun pula, untuk kemudian melahirkan gadis kecil sebaik Nayaka.
Bukan karena Mas Syakib buruk, Mas Syakib bahkan sangat baik. Tapi Hana memiliki impian ingin menjadi dokter,”sambungnya.
Tatapan sendu Mas Radika mengarah langsung padaku. Aku terdiam dan tergugu. Ia tidak terlihat seperti Mas Radika yang biasanya.
“Hana yatim piatu. Orang tuanya meninggal saat ia berusia delapan tahun karena sakit. Keluarga Hana, baik dari ayah atau ibu tidak ada yang bersedia mengurusnya, akhirnya ia di titipkan di panti asuhan oleh keluarga besarnya.
Karena kami berada dalam satu sekolah, sejak sekolah dasar. Juga kebetulan panti asuhan itu dekat dengan rumah lama Mas, kami akhirnya bersahabat baik bahkan hingga saat ini.”
Hatiku mencelos. Aku bisa merasakan posisi Mas Radika sebagai sahabat ibu dari Nayaka.
Hatiku ikut terkoyak. Tetesan bening keluar dari pelupuk mata Mas Radika. Ia terlihat sangat menyayangi sahabatnya.
“Mas melihat bagaimana Hana memasang wajah datar ketika keluarga besar dari ayah maupun ibu—justru mengirimnya ke panti asuhan.
Mas sedang bermain di panti, ketika itu. Hana diam, tidak melawan, tidak merajuk untuk dibawa pulang, juga tidak menangis.
Keluarga besar Hana betul-betul payah dalam sebuah hubungan kekeluargaan, padahal kehidupan mereka sangat berkecukupan.”
“Mas menyukai, almarhumah Bu Hana?”
Mas Radika tersenyum. “Persahabatan laki-laki dan perempuan, mustahil jika tidak ada bumbu saling menyukai, Baha. Terlebih gadis itu adalah Hana, yang berhati lembut meski wajahnya terlihat garang.
Sangat mudah untuk menyukai gadis cerdas sepertinya. Tapi bagi Mas, kebahagiaan dan impian Hana adalah segalanya.
Hana, memiliki impian terbesar, yaitu menjadi dokter ahli. Tapi Hana sedih karena tidak mendapat dukungan dari pihak panti asuhan. Mas juga tidak mampu membantu apa-apa. Dan puncaknya ialah ketika lulus SMA.
Ibu panti tiba-tiba menjodohkannya dengan Mas Syakib. Ibu panti mengatakan bahwa Mas Syakib yang akan menguliahkan Hana.
Entah bagaimana ceritanya, Hana menyetujui pernikahan itu. Kesulitan hidup membuatnya sering mengalah pada keadaan.
Tapi kesulitan Hana tidak berhenti di situ, karena Almarhumah ibu Mas Syakib ternyata tidak sepenuhnya menerima Hana, setelah mengetahui ia berasal dari panti asuhan.”
Mas Radika membuang napasnya kasar.
“Mas tidak bisa menceritakan seluruh detailnya padamu, Baha. Tapi Mas harap kau mengerti satu hal. Nayaka menganggap, kau tidak menyukai kelasnya. Karena itu ia belajar siang malam agar bisa lolos seleksi olimpiade internasional.
Ia ingin membuktikan bahwa kelasnya layak di datangi oleh kepala sekolah mereka yang tampan.
Kau tau? Nayaka pernah memiliki keinginan untuk pindah dari sekolah ini, karena ia pikir kepala sekolah mereka tidak menginginkan kelas unggulan C.”
Aku terhenyak. Hatiku serasa di remas. Lagi-lagi aku merasa gila dan bodoh dengan diriku sendiri. Secara tidak langsung, aku sudah menyakiti gadis yang kucintai setiap hari.
Ya Allah ... apa yang sudah kulakukan? Aku mencintainya, tapi cintaku justru menyakitinya. Aku tidak ingin ia pergi, tapi sikapku mendorongnya untuk pergi.
Inikah alasan Nayaka ingin meneruskan SMA di jepang? Karena ia merasa kelasnya tidak di anggap?
“Apapun alasanmu tidak mengajar di kelas Nayaka, ku harap kau tidak pernah menyakiti anak-anak santri dengan cara ini lagi. Aku dan Ana sudah menganggap Nayaka seperti putri kami sendiri, jadi tolong hargai dan jangan sakiti dia. Assalamu’alaikum.”
Mas radika meninggalkanku di ruangannya. Ia memberiku waktu untuk merenungi segala yang kulakukan. Memperbaiki pikiran yang berkecamuk dalam otakku yang bebal.
Kedua tanganku mengepal, aku merasa marah pada diriku sendiri yang menjadi lemah karena jatuh cinta.
Aku tidak ingin menjadi seperti Qais yang gila karena cintanya pada Laila, tapi aku tak bisa menyangkal bahwa perasaanku pada Nayaka bukan perasaan yang dapat kuanggap sepele.
Karena nyatanya, aku bahkan tidak mampu jika harus jauh darinya. Nyatanya, Nayaka se-berpengaruh itu pada seluruh aktivitasku.
‘Bila cinta telah berlabuh, tidak ada lagi ruang dalam hati bagi dunia dan warna-warninya. Bias cahaya cinta yang semarak gemerlap, mampu membakar kesabaran dan rasionalitas. Rasa duka dan kecemasan akan keselamatan diri, sirna. Caci maki dan umpatan buruk orang tidak lebih berat daripada beban segenggam debu. Apa saja yang menghalangi cinta adalah angin lalu, atau gonggongan anjing membuat kafilah cinta semakin menderu.’- Molla Nuruddin Abdurrahman Jami.
Aku mengusap wajahku kasar. Aku ingin sekali berteriak. Aku ingin sekali berhenti memikirkannya barang sebentar. Tapi itu justru semakin menyulitkanku.
Nayaka ... seandainya kau sudah dewasa, mungkin semua tidak akan sesulit ini. Kau ... bahkan usiamu masih empat belas tahun saat ini. Astaghfirullah.
***
Bersambung...
Terimakasih teman teman telah membaca... Jangan lupa komen dan share sebanyak banyaknya...
Source : https://web.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2839299539465252/
