Cerpen Islami : Ustadz Tembok Part 7

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebelum membaca Part 7, diharapkan teman teman sudah membaca dari Part 1 ya. Selamat Membaca....

Part 7 : Karena Perempuan ?

***


“Apa? Merubah peraturan wajib pesantren selama enam tahun?”

Itulah reaksi Mas Syahid, saat ku sarankan agar santri yang masuk pesantren ini sejak SMP, di wajibkan menyelesaikan SMA di sini pula.

Saat ini aku berada di ruangan Mas Syahid. Di sini hanya ada kami berdua.

“Kenapa, Mas? Bukankah itu bagus?”

“Bagus katamu?”

“Why?”

“Hei! Jika kita merubah peraturan secara tiba-tiba, itu sama saja seperti kita memaksakan kehendak, Baha.”

“Tapi Mas bisa lihat prestasi anak-anak. Mereka semakin bersemangat untuk berkompetisi.”

Mas Syahid melihatku dengan tatapan bingung.

“Nanti malam, kita berenam berkumpul di sini. Aku akan hubungi Radika dan yang lainnya,” tukasnya.

Aku mengangguk paham. “Baiklah, Mas. Aku pergi dulu.

Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Setelah keluar dari ruangan Mas Syahid, aku menatap jam tanganku—gelisah. Nanti malam berkumpul, bagaimana jika semuanya menolak usulku?

Aku menghembuskan napas kasar. Kemudian berjalan menuju kamarku untuk membaca buku.

***

Malam harinya, kami benar-benar berkumpul di ruangan Mas Syahid. Melanjutkan pembahasan mengenai peraturan pesantren dan sekolah di sini wajib enam tahun.

“Assalamu’alaikum, semuanya. Mohon maaf karena mengganggu istirahat kalian. Aku meminta berkumpul karena ada yang ingin kubahas,” ucap Mas Syahid.

Semua orang menjawab salam secara serempak, kemudian mengangguk.

“Biasanya kita membahas sesuatu di pagi hari, Mas. Kenapa hari ini agaknya terburu-buru?” tanya Mas Rafli.

Mas Syahid berdehem. “Begini ... Baha mengusulkan agar santri yang mendaftarkan sekolah sejak SMP, diwajibkan melanjutkan SMA disini,” kata Mas Syahid membuka pembahasan.

Semua pasang mata menatapku dengan kening berkerut.

“Ada apa denganmu, Baha? Kau tidak pernah se-gegabah ini, sebelumnya,” tanya Mas Naufal dengan lembut dan tenang.

“Jadi begini, melihat anak-anak semakin banyak yang tertarik mengikuti olimpiade internasional, akan sangat disayangkan jika mereka melanjutkan studi di tempat lain, bukan?” tanyaku.

Mereka saling berpandangan satu sama lain. Ok! Aku merasakan bahwa mereka menganggap sikapku kali ini aneh. Sebab membuat peraturan baru memang tidak mudah.

“Tapi setiap anak dan orang tua memiliki keinginan yang berbeda, Baha. Barangkali ada yang ingin mencari suasana belajar, yang baru?” imbuh Mas Naufal.

“Iya. Benar apa yang di katakan Mas Naufal. Anak-anak berhak mendapatkan kebebasan melanjutkan sekolah di mana pun,” kali ini Mas Syarif yang menjawab.

“Lagipula, peraturan ini tidak di buat sejak awal. Bagaimana jika para wali santri berpikir kita memanfaatkan putra-putrinya untuk kepentingan pesantren?” sambung Mas Syarif.

Aku merasa kali ini lebih banyak yang menentang usulku daripada yang mendukung. Mas Radika masih bertahan dengan diamnya, tapi aku tahu, ada yang ingin Mas Radika katakan padaku.

“Apa karena perempuan?”

Kali ini Mas Radika yang bersuara. Dan kalimatnya itu berhasil membuat semua orang beralih menatapku. Aku mengalihkan tatapan dari mereka.

“Apa yang Mas katakan?”ucapku dengan ekspresi datar.

“Baha, kau belum pernah seperti ini, sebelumnya,” jawab Mas Radika

“Tapi hal seperti ini bukan berarti karena perempuan, bukan?”

Mas Radika dan yang lainnya menghela napas kasar.

“Baiklah ... rapat kali ini kita tutup saja bagaimana, Mas Naufal? Kita perlu berdiskusi lebih dalam dengan Abah.”

Semua orang sepakat untuk mengambil langkah diskusi dengan Abah dan mengakhiri rapat malam ini.

Aku berniat pergi dari ruangan ini, namun Mas Radika memintaku untuk ikut ke ruangannya.

***

Sudah sekitar dua puluh menit aku berada di ruangan Mas Radika, tapi belum ada satupun dari kami yang membuka percakapan. Kudengar Mas Radika menghela napas panjang.

“Baha,” ucap Mas Radika memecah keheningan di antara kami.

Aku menoleh. “Ya, Mas,” jawabku.

“Kau, tidak ingin mengatakan sesuatu?”

Dahiku mengkerut. Apa maksud Mas Radika memanggilku sebenarnya? Aku merasa seperti tersangka kasus berat jika begini.

“Nayaka ....” Mas Radika menggantung kalimatnya.

Mendengar nama gadisku disebut, tubuhku menegang dan reflek aku menoleh ke arahnya. Tanpa sadar mataku melebar dan mulutku menganga.

Aku menelan ludahku susah payah. Persis seperti maling ketika tertangkap mencuri. Kali ini aku benar-benar merasa seperti tersangka.

“Baha, Astaghfirullah. Hei! Ada apa dengan wajahmu?”

Aku yang semula sudah gugup menjadi salah tingkah. Mas Radika betul-betul sukses membuatku hampir terkena serangan jantung.

“Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku,” Mas Radika terkekeh geli.

***

Bersambung..

Terimakasih telah membaca Cerpen Islami
Jangan lupa komen dan share yang sebanyak banyaknya agar makin semangat dalam menulis...

Source : https://web.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2838031069592099/
Next Post Previous Post
4 Comments
  • Catatan Flashpacker
    Catatan Flashpacker 2 December 2019 at 16:13

    Menarik ceritanya. Ditunggu cerpen berikutnya ya..

    • Faki
      Faki 2 December 2019 at 16:19

      Siap bang segera...

  • Unknown
    Unknown 3 December 2019 at 15:06

    Lanjut part 8 bang

  • Nurhana
    Nurhana 1 January 2020 at 10:35

    Lanjutkan lanjutkan👏👏👏

Add Comment
comment url